| Syaikh Fauzan hafidzhahullah memiliki
manhaj yang sangat jelas. Jawaban beliau terhadap berbagai pertanyaan seputar
manhaj dakwah sangat jelas bertentangan dengan mauqif Ihya At-Turats beserta
para tokohnya. Kalaulah beliau mengetahui hakekat manhaj mereka, tentunya
rekomendasi tersebut tidak akan beliau keluarkan.
|
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar." (Majmu' Fatawa 4/155). Beliau juga berkata: "Bahkan syi'ar ahlul bid'ah adalah meninggalkan manhaj salaf." (Majmu' Fatawa 4/155).
Tampilkan postingan dengan label Surury. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surury. Tampilkan semua postingan
Jumat, 16 September 2011
Jawaban atas rekomendasi Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidhahullah
Menjawab nasehat Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dan Ibrahim Ar-Ruhaili hafidzhahumallah
| Firanda menukilkan dari Syekh Abdul
Muhsin Al-'Abbad hafidzhahullah Ta'ala bahwa beliau berkata:
|
Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tentang sebagian amalan Ihya At-Turats
| Demikian pula Syaikh Ibnu Utsaimin
rahimahullah Ta'ala, beliau tidak diberi penjelasan secara detail tentang
organisasi Ihya At-Turats, sehingga beliau menjawab pertanyaan berdasarkan
"manhaj tertulis" yang disodorkan kepada beliau. Kalau sekiranya beliau
mengetahui bahwa dalam organisasi tersebut ada "pembai'atan", tentulah beliau
tidak akan memberi rekomendasi tersebut. Diantara bukti yang menunjukkan hal
tersebut adalah fatwa beliau tatkala ditanya tentang masalah bai'at. Berikut ini
nash pertanyaannya:
|
Fatwa Syaikh Bin Baaz tentang sebagian amalan organisasi Ihya At-Turats
Pendapat yang memuji Ihya At Turats
| Para ulama yang memberi
rekomendasi terhadap organisasi ini, sebagaimana yang disebutkan oleh al akh
Firanda dengan menukil dari kitab "Syahâdât Muhimmah li-Ulamâ al-Ummah" yang
disebarkan oleh organisasi Ihya At Turats sendiri dalam situs mereka
adalah:
|
Ulama, Antara Senior dan Paling Senior
| Maka siapa saja dari kalangan para
ulama yang membawakan dalil yang shahih,dan mengikuti metode salaf dalam
beristidlal dan memahami dalil, maka harus diterima, tanpa melihat apakah dia
seorang alim yang dianggap ‘senior’ –jika ungkapan ini benar- ataukah kurang
‘senior’. Maka membeda-bedakan para ulama dalam menerima pendapat mereka -
antara senior dengan yang paling senior –secara mutlak adalah menyelisihi manhaj
salaf yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam sikap fanatik terhadap satu
pendapat tanpa memperhatikan hujjah-hujjah mereka. |
Sikap Ahlussunnah dalam menyikapi kesalahan seorang alim, antara sikap berlebihan ‘kaum Haddadiyyah’ dan sikap meremehkan ‘kaum Sururiyyah’
| Kaum Haddadiyyah yang getol menyerang
para ulama serta menyikapi kesalahan mereka, seperti penyimpangan yang dilakukan
oleh para pengekor hawa nafsu. Haddadiyyah, nisbah kepada seorang asal Mesir
yang bernama Mahmud Al-Haddad Al-Mishri, yang dahulu pernah tinggal di Madinah.
Awal munculnya gerakan ini dimulai dengan mengkritik Al-Hafidz Ibnu Hajar dan
Imam Nawawi dalam majelis-majelisnya, lantas dia mengajak manusia untuk
menghukuminya [kedua Imam tersebut] sebagai seorang mubtadi’. Lalu kemudian
berlanjut hingga mencela siapapun dari kalangan para ulama yang dianggapnya
memiliki kesalahan –menurut persangkaannya- seperti Syekh Bin Baaz rahimahullah,
Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan hafidhahullah, Syaikh Al-Luhaidan hafidhahullah,
Syaikh Al-Albani rahimahullah dan yang lainnya. Bagi siapa yang ingin
mengetahui, Syekh Rabi’ hafidzahullah telah menyebutkan dalam tulisan beliau
“Manhaj Al-Haddadiyyah” 12 poin dari pemikiran Al-Haddadiyyah, yang ringkasannya
sebagai berikut: 1. Kebenciannya terhadap para ulama Salafi di zaman sekarang, menisbahkan/mencap kesesatan pada mereka dan merendahkan kedudukan mereka. |
Kesalahan Mujtahid vs Pengekor Hawa Nafsu - Ifrath Haddadiyyah vs Tafrith Sururiyyah
Mendudukkan Rekomendasi Para Ulama
| Jika kita memperhatikan secara
seksama apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan fatwa dalam menyikapi Ihya
At-Turots, keadaannya bukanlah seperti masalah khilafiyyah yang didalamnya
terjadi saling tarik menarik dalil atau masing-masing mengetahui dalil yang ada,
hanya berbeda dalam hal pemahaman. Seperti halnya masalah sedekap disaat posisi
I’tidal (dalam sholat, red), dimana masing-masing dari para Ulama tersebut
mengetahui dalil yang datang dalam masalah ini, namun terjadi perbedaan dalam
hal memahaminya. Atau seperti masalah duduk akhir dalam sholat, apakah dengan
cara tawarruk ataukah iftirosy, masing-masingnya berhujjah dengan satu hadits
yaitu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abu Humaid As-Sa’idi. Atau
seperti masalah menggerakkan jari ketika tasyahhud, yang berbeda dalam menyikapi
keabsahan adanya tambahan “wayuharrikuha” dalam riwayat Zaidah bin Qudamah, atau
permasalahan yang semisal apa yang kami sebutkan.
|
Menyikapi Masalah Khilaf
| Di antara perkara yang wajib
diketahui dalam hal ini adalah menyikapi setiap permasalahan sesuai porsinya,
tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kurang dari kadar semestinya. Demikian
pula dalam hal menyikapi adanya perselisihan yang terjadi di kalangan para
Ulama. Ada perkara-perkara yang bisa ditolerir yang memerlukan sikap lapang dada
dalam menghadapi adanya khilaf tersebut, ada pula yang membutuhkan sikap tegas
bahkan sampai kepada tingkat memperingatkan umat dari bahayanya pendapat yang
keliru tersebut. Nah, barangsiapa yang berpendapat bahwa masalah khilafiyyah ijtihadiyyah tidak boleh ada pengingkaran atau tahdzir padanya maka sungguh dia telah melakukan suatu kesalahan yang fatal. Seperti apa yang disebutkan oleh al akh Firanda : “……..atau diterapkan pada perkara-perkara yang sebenarnya tidak boleh ada pengingkaran apalagi sampai tahapan tahdzir dan hajr seperti perkara-perkara yang merupakan masalah ijtihadiyyah”[2]. (Kaidah-Kaidah Penerapan Hajr (Boikot) terhadap Ahli Bid’ah Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Menyikapi Sejumlah Kesalahan Penerapan Hajr di Indonesia, penulis Al Akh Firanda Ibnu ‘Abidin Abu ‘Abdil Muhsin as-Soronji, hal 8, tanpa penerbit [3] ). Sungguh benar apa yang dikatakan oleh seorang penyair :
ليس كل خلاف
جاء معتبرا
“Tidak semua khilaf yang datang itu
bisa dianggapإلا خلاف له حظ من النظر Kecuali jika khilaf tersebut memiliki sisi pandang” Bila kita telah memahami masalah ini, maka disaat kita mendapati adanya permasalahan yang diperselisihkan di kalangan para Ulama, maka sikap pertama bagi seorang muslim adalah menimbang masalah tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dengan pemahaman Salafus Soleh. Sebagaimana firman-Nya: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً ﴿٥۹﴾ [النساء: ٥۹] Dan firman-Nya: وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا ﴿۳٦﴾ [الأحزاب: ۳٦] Dan firman-Nya: فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٦٥﴾ [النساء: ٦٥] Dan nash-nash dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam perkara ini masih sangat banyak. Maka jika muncul satu pendapat dari seorang alim atau yang lainnya yang menyelisihi nash yang shorih (jelas), maka bukanlah hal yang tercela apabila pendapat tersebut diingkari dan diperingatkan umat (tahdzir), agar mereka menjauhi pendapat itu. Bahkan hal itu termasuk dalam nasehat yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam sabdanya:
(( الدين
النصيحة))
“Agama itu adalah
nasehat”(HR.Muslim dari Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad-Dari Radiyallahu ‘anhu ). Oleh karenanya masih saja para Ulama mengeluarkan bantahan-bantahannya dan memperingatkan umat dari bahayanya mengambil suatu pendapat, yang telah jelas menyelisihi apa yang telah tsabit dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Disini akan kami nukilkan beberapa contoh tentang apa yang kami sebutkan: 1) Nikah mut’ah, yang telah jelas haramnya berdasarkan dalil-dalil yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bahwa beliau mengharamkannya. Saya kira tentang keharamannya bukanlah perkara yang samar bagi kita sekalian, sehingga tidak perlu kita menyebutkan dalil-dalilnya, namun itu bukan tujuan kita bahas disini. Namun yang perlu diketahui bahwa di kalangan para ulama bahkan shahabat ada yang menghalalkannya, sebagaimana yang telah tsabit dari Abdullah bin Abbas , diantara yang masyhur berpendapat demikian adalah Ibnu Juraij Abdul Malik bin Abdil Aziz rahimahullah Ta’ala. Lalu jika ada orang di zaman kita ada yang mau melakukan nikah mut’ah, apakah kita tidak mengingkarinya? Apakah kita tidak mentahdzirnya? Dengan alasan bahwa ini masalah khilafiyyah ijtihadiyyah - menurut bahasanya Al-Akh Firanda- ? Tentunya orang yang sedikit pengetahuannya tentang kaidah-kaidah dalam manhaj Salaf pun bisa menjawab hal ini. 2) Nikah dengan cara tahlil, yaitu menikahi seorang wanita yang telah bercerai dengan suami pertamanya,yang dimaksudkan -dengan menikahinya – diapun mencerainya, sehingga dia bisa kembali kepada suami pertamanya. Atau telah terjadi kesepakatan diantara mereka bahwa jika ia menikahinya dan telah menyetubuhinya, maka dia harus mencerainya agar dapat kembali ke suaminya yang pertama. Adapun jumhur para Ulama mengharamkan pernikahan model ini. Berkata Umar : “Tidaklah ada orang yang didatangkan kepadaku melakukan nikah tahlil melainkan akan aku rajam keduanya”. Namun diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia membolehkannya. Lalu jika ada orang yang melakukannya pada hari ini, apakah anda tidak memberi peringatan (tahdzir) dari pendapat tersebut - dengan alasan - masalah ini termasuk ijtihadiyyah khilafiyyah ? Jawablah dengan jawaban seorang Salafi yang ikhlas dalam mengikuti manhaj Salaf ! Silahkan lihat ucapan Syaikhul Islam tentang pembahasan nikah tahlil dalam Majmu’ Fatawa : 20/266-dst Jilid 32/93 dan hal:96-97 serta di tempat yang lainnya. 3) Jama’ah Tabligh, jama’ah Shufiyyah, dimana para Ulama telah mentahdzirnya dan memberi peringatan darinya. Hal ini adalah perkara yang sudah ma’ruf di kalangan kita sekalian. Akan tetapi ternyata masih ada juga yang memberi pujian pada mereka, seperti Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, bahkan mengarang sebuah kitab sebagai bentuk pujian terhadap mereka yang akhirnya kitab tersebut dijadikan tameng oleh Jama’ah Tabligh. Maka silahkan ditanyakan kepada Al-Akh Firanda –hadanallahu wa iyyah- : “Apakah anda tidak mengingkari Jama’ah Tabligh dan mentahdzir darinya?” Atau anda masih menganggap bahwa ini masalah khilafiyyah ijtihadiyyah yang tidak boleh ada pengingkaran dan tahdzir padanya ? Kalau anda memberi jawaban pertama, maka anda telah merobohkan kaedah yang anda gunakan sendiri. Dan kalau anda memilih jawaban yang kedua, maka anda perlu untuk mengintrospeksi kembali terhadap manhaj anda. 4) Masalah demonstrasi. Baru-baru ini ketika Syaikh Ali Hasan hafidzahullah berkunjung ke Makasar, dalam salah satu pertemuan beliau ditanya tentang hukum berdemonstrasi. Beliaupun menjawab bahwa ini termasuk perkara yang diperselisihkan oleh para Ulama, walaupun yang rajih menurut beliau adalah terlarang. Saya sendiri belum mengetahui siapa di kalangan para Ulama Ahlus Sunnah yang membolehkan demonstrasi, namun kalaulah apa yang disebutkan oleh Syaikh Ali Hasan tersebut benar, apakah jika ada yang membolehkan demonstrasi bahkan melakukannya, apakah tidak diperbolehkan mentahdzir darinya dengan alasan bahwa ini termasuk masalah khilafiyyah ijtihadiyyah? Kita tunggu jawaban dari Al-Akh Firanda. 5) Masalah haramnya musik. Kita tentunya telah mengetahui berdasarkan banyak dalil baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menjelaskan tentang diharamkannya musik. Dan ini adalah pendapat jumhur dari kalangan para Ulama. Namun di kalangan para Ulama masih ada juga yang menghalalkan, seperti Ibnu Hazm rahimahullah Ta’ala. Jika demikian keadaannya, lalu tanyakanlah kepada al-akh Firanda: “Apakah anda tidak mentahdzir dari musik karena termasuk masalah ijtihadiyyah khilafiyyah?”. 6) Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Salman dan Safar Hawali. Dimana para Ulama telah menjelaskan dan mentahdzir dari kesesatannya, seperti Al-Allamah Al-Albani, Asy Syaikh Ibn Baaz dan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumullah Ta’ala. Bahkan telah dinyatakan bahwa mereka ini tergolong diantara kaum Neo Khawarij. Namun bukankah Al-Akh Firanda juga mengetahui bahwa masih ada juga yang membela mereka, seperti Syaikh Abdurrahman Jibrin, Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid dan mungkin masih ada yang lainnya yang ana tidak ketahui. Lalu silahkan tanyakan kepada Al-Akh Firanda: “Apakah anda termasuk yang membela mereka atau yang mentahdzir ? Atau mungkin anda memiliki jawaban rinci ?” Mungkin itu yang kita tunggu. Saya kira beberapa contoh ini sudah cukup mewakili yang lainnya, sebab masih banyak lagi contoh yang disebutkan oleh para Ulama, diantaranya Syaikhul Islam dalam Majmu’ al-Fatawa dan Ibnu Qoyyim dalam kitabnya yang sangat bermanfaat, “A’laam al-Muwaqqi’in”. Bila hal ini telah kita pahami, maka sesungguhnya para Ulama masih saja memperingatkan dari bahayanya suatu pendapat yang menyelisihi dalil, walaupun di kalangan para Ulama ada yang berpendapat dengannya. Sebab tidak seorang pun dari kalangan para ulama melainkan Ia memiliki zallah (ketergelinciran/kekeliruan). Berkata Al-Auza’i rahimahullah Ta’ala: (نجتنب أو نترك من قول أهل العراق خمسا ومن قول أهل الحجاز خمسا من قول أهل العراق شرب المسكر والأكل في الفجر في رمضان ولا جمعة إلا في سبعة أمصار وتأخير صلاة العصر حتى يكون ظل كل شيء أربعة أمثاله والفرار يوم الزحف ومن قول أهل الحجاز استماع الملاهي والجمع بين الصلاتين من غير عذر والمتعة بالنساء والدرهم بالدرهمين والدينار بالدينارين يدا بيد وإتيان السناء في أدبارهن) (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Ma’rifat Uluum al-Hadits:65 dan dari jalannya Al-Baihaqi dalam Sunannya: 10/211). Beliau rahimahullah juga mengatakan:
من أخذ
بنوادر العلماء خرج من الإسلام
“Barangsiapa yang mengambil pendapat
ganjil para ulama, maka dia keluar dari Islam” (diriwayatkan
Al-Baihaqi:10/211)Juga berkata Ismail bin Ishaq Al-Qadhi:
من أباح
المسكر لم يبح المتعة ومن أباح المتعة لم يبح الغناء والمسكر وما من عالم إلا وله
زلة ومن جمع زلل العلماء ثم أخذ بها ذهب دينه
“(Ulama) yang membolehkan minum yang
memabukkan, dia tidak membolehkan nikah mut’ah. Dan Ulama yang membolehkan nikah
mut’ah, tidak membolehkan nyanyian dan yang memabukkan. Tidak seorang alim pun
melainkan dia memiliki ketergelinciran (kekeliruan, pen). Dan barangsiapa yang
mengumpulkan ketergelinciran para Ulama, maka akan hilang agamanya.”
(Diriwayatkan Al-Baihaqi:10/211).Berkata pula Yahya bin Sa’id Al-Qoththon rahimahullah Ta’ala: لو أن رجلا عمل بكل رخصة : بقول أهل الكوفة في النبيذ وأهل المدينة في السماع وأهل مكة في المتعة لكان فاسقا Berkata Sulaiman At-Taimi: لو أخذت برخصة كل عالم أو زلة كل عالم اجتمع فيك الشر كله (Musnad Ibnu Ja’ad:1319, Hilyah Al-Auliya’:3/323, Tadzkirotul Huffadz:1/151) Ibnu Hazm rahimahullah tatkala menyebutkan tentang sedikitnya jumlah ijma’ yang tsabit, lalu beliau berkata: ولو أن امرأ لا يأخذ إلا بما اجتمعت عليه الأمة فقط ويترك كل ما اختلفوا فيه مما قد جاءت فيه النصوص لكان فاسقا بإجماع الأمة Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah Ta’ala tatkala beliau menjelaskan tentang batilnya perbuatan hilah [5] : “Perkataan mereka, ‘Bahwa permasalahan khilaf tidak ada pengingkaran atasnya’, tidaklah benar, sebab sikap pengingkaran ada kalanya diarahkan kepada sebuah ucapan, fatwa atau amalan. Adapun yang pertama, maka apabila ucapan tersebut menyelisihi Sunnah atau ijma’ yang masyhur, maka wajib mengingkarinya berdasarkan kesepakatan. Jika tidak demikian (maksudnya tidak ada kesepakatan-pen) maka menjelaskan kelemahannya dan penyelisihannya terhadap dalil, maka tetap ada pengingkaran yang semisalnya. Adapun suatu amalan, maka apabila menyelisihi Sunnah atau ijma’, maka wajib mengingkarinya berdasarkan tingkatan-tingkatan dalam mengingkari. Lalu bagaimana mungkin seorang faqih menyatakan bahwa tidak boleh ada pengingkaran terhadap berbagai masalah yang diperselisihkan, sementara para fuqoha’ dari seluruh golongan telah menyatakan dengan jelas bahwa akan dibatalkannya keputusan hukum seorang hakim, jika menyelisihi al-Kitab atau as-Sunnah walaupun telah disetujui oleh sebagian ulama. Adapun bila dalam permasalahan tersebut tidak ada Sunnah, atau ijma’, dan ijtihad diperbolehkan padanya. Maka tidak diingkari orang yang melakukannya karena berijtihad atau bertaqlid. Dan sesungguhnya munculnya pengkaburan ini disebabkan karena orang yang mengatakannya meyakini bahwa permasalahn khilaf itu adalah masalah ijtihad, sebagaimana yang disangka oleh beberapa orang dari kalangan manusia yang tidak memiliki sifat tahqiq (pengecekan secara benar) dalam berilmu. Yang benar adalah apa yang diyakini oleh para imam bahwa permasalahan ijtihad selama tidak ada dalil yang wajib diamalkan secara dzahir, seperti hadits yang shohih yang tidak ada yang menyelisihinya, maka diperbolehkan padanya –jika tidak ada dalil yang zhahir yang wajib diamalkan- berijtihad, sebab adanya dalil-dalil yang terlihat saling bertentangan serta karena terkaburkannya dalil-dalil didalamnya. Dan pada ucapan seorang alim, “Sesungguhnya masalah ini qoth’i atau yaqini dan tidak diperbolehkan padanya ijtihad, bukanlah merupakan cercaan terhadap yang menyelisihinya ,tidak pula dinisbahkan kepadanya bahwa dia sengaja menyelisihi kebenaran. Sementara permasalahan yang diperselisihkan padanya oleh Ulama Salaf maupun khalaf, dalam keadaan kita telah meyakini kebenaran salah satu dari dua pendapat tersebut, banyak...” Lalu beliau menyebutkan sekian banyak contoh dalam hal ini, setelah itu beliau mengatakan, “Yang jelas, tidak ada udzur di sisi Allah Azza wa Jalla pada hari Kiamat bagi siapa yang telah sampai kepadanya apa yang terdapat dalam suatu permasalahan,baik masalah ini atau yang lainnya, berupa hadits-hadits dan atsar yang tidak ada yang menyelisihinya, jika dia melemparnya di belakang punggungnya, lalu dia taqlid pada orang yang dilarang untuk taqlid kepadanya dan yang telah mengatakan kepadanya, “Tidak halal bagimu untuk mengikuti ucapanku jika menyelisihi Sunnah. Maka jika telah shohih suatu hadits, maka jangan engkau pedulikan ucapanku”. Kendatipun dia tidak mengatakan itu kepadamu, maka sesungguhnya itu adalah suatu hal yang wajib yang tidak ada pilihan lain bagimu. Bahkan kalaupun dia mengatakan kepadamu selain itu, maka tidak ada leluasa bagimu kecuali mengikuti hujjah. Kalau saja dalam masalah ini tidak terdapat hadits dan atsar sama sekali, maka sesungguhnya seorang mukmin mengetahui secara pasti bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam tidak pernah mengajari para shahabatnya cara hilah seperti ini dan tidak pula membimbing kepadanya, ‘kalaulah sekiranya sampai kepadanya berita bahwa ada seseorang melakukannya niscaya akan diingkarinya’. Dan tidak pernah seorang pun dari para shahabat yang memfatwakannya dan tidak pula mengajarkannya. Sebab yang demikian termasuk perkara yang dipastikan oleh setiap orang yang sedikit menelaah tentang keadaan mereka, sejarah kehidupan mereka dan fatwa-fatwanya. Hal ini tidaklah membutuhkan dalil lebih dari sekedar mengetahui hakekat agama yang Allah Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya dengannya.” (A’laam al-Muwaqqi’in,Ibnul Qoyyim:3/300-301)
Footnote :
2. Dalam ucapan ini ada dua permasalahan yang perlu pembahasan: masalah mengingkari dan tahdzir dari permasalahan khilafiyah dan yang kedua adalah masalah hajr. Untuk edisi ini kita hanya membahas bagian pertama.
3. Buku ini saya dapatkan
foto kopinya dari Al-Akh Al-Ustadz Ibnu Yunus hafidzahullah. Dan saya tidak
memiliki bukunya yang sudah dicetak.
4. Sejenis tape dari korma
atau anggur atau yang lainnya yang disimpan pada sebuah tempat lalu dibiarkan
dalam waktu beberapa lama yang dapat menyebabkan ia menjadi sesuatu yang
memabukkan.
5. Hilah adalah jenis
khusus dari suatu amalan yang mana pelakunya berpindah dari satu keadaan menuju
kepada keadaan lainnya. Biasanya dilakukan untuk mengaburkan sesuatu yang
terlarang baik secara syari’at, akal ataukah kebiasaan.(A’laam
Al-Muwaqqi’in,Ibnul Qoyyim: 3/252). Dengan kata lain hilah adalah mengamalkan
muamalah dengan cara yang terlarang dengan cara yang samar, yang tidak ada yang
mengetahui keharamannya kecuali orang memperhatikannya secara
seksama.
|
Jum’iyyah Ihya At-Turots, masalah ijtihadiyyah?
| Pada edisi yang lalu telah kita nukilkan sebagian
fatwa para ulama yang menyatakan bahwa Ihya At-Turots adalah organisasi yang
dibangun diatas manhaj Ikhwani,yang didalamnya diterapkan cara-cara hizbiyyah.
Diantaranya mengikat anggotanya dengan cara bai’at, ikut serta dalam politik
praktis, berparlemen, menyebarkan pemikiran Quthbiyyah dan Abdurrahman Abdul
Khaliq. Sehingga, menyebabkan terjadinya perpecahan di berbagai negeri karena
campur tangan organisasi ini yang mengatasnamakan dakwahnya dengan dakwah
Salafiyyah, termasuk perpecahan yang telah terjadi di Indonesia juga tidak
terlepas dari campur tangan mereka.
|
Fatwa Syaikhuna Muqbil Bin Hadi –Rahimahullah
فتوى الشيخ
مقبل رحمه الله تعالى
((جمعية إحياء التراث علمها هو جمع الأموال ثم بعد ذلك تجميع الناس معهم وإلى دعوة ديمقراطية .ليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المال, وليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المراكز وليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المرتفعات العسكرية وغيرها.الخلاف بيننا وبينهم أنهم يدعون إلى الديمقراطية وهكذا أيضا الإخوان المفلسون يدعون إلى الديمقراطية ويريدون أن يصوروا للناس من أنها إسلامية, والله المستعان)).
Terjemahan : Syaikh Muqbil ibn Hadi rahimahullah : “Jum’iyyah Ihya’ At-Turots ilmunya adalah mengumpalkan harta, kemudian mengumpulkan manusia agar bersama mereka dan mengajak kepada Demokrasi. Bukanlah perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ At-Turots) disebabkan karena harta. Dan bukanlah perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ At-Turots) disebabkan karena markaz (pondok pesantren) dan bukan perselisihan antara kami dan mereka dalam masalah tingkatan ketentaraan. Perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ at-Turots) adalah karena mereka menyeru kepada Demokrasi. Demikian pula, Al-Ikhwan Al-Muflisun menyeru kepada Demokrasi. Mereka hendak menggambarkan kepada manusia bahwa itu adalah cara Islami. Wallahul musta’an”. |
Fatwa Asy-Syaikh Muhammad Bin Hadi Al-Madkhali Hafidhahullah-
فتوى
الشيخ محمد بن هادي المدخلي خفظه الله تعالى
السائل:يوجد لجمعية إحياء التراث جهود في مجال الدعوة ؟ الجواب: هل تعرفون هذه الجمعية وهل هي قائمة على النهج السلفي؟لا والله ما هي قائمة على المنهج السلفي,والله على المنهج الإخواني قائمة, وأصحابها متلونون .والذي نعرفه منهم لا يجوز لنا أن ندعه لحال من زكاهم ممن تجملوا له وهو لا يعرفه,فإن الله سبحانه وتعالى لم يكلفنا إلا بما علمنا .وهذه الجمعية حزبية والبيعة عندهم يسمونها العهد.أو يسمونها طاعة المسؤول .وانظروا إليهم في مواقفهم .فأينما شرقوا أو غربوا في العالم الإسلامي وغير الإسلامي لا تجدهم إلا يفرقون الدعوات السلفية.ما يجمعون,وإنما يأتون إلى التجمعات السلفية فيفرقونها ,وذلك بسبب المال الذي معهم.فنسأل الله العافية والسلامة .ولقد تكلمت في هذا في كثير من الأشرطة ولي في هذا كلام في شريطين في الكويت عندهم. الشاهد عبد الرحمن عبد الخالق ليس بخاف علينا ولا بخاف عليكم جميعا وهو شيخهم إلى هذه الساعة وإن حاولوا التنقل منه.فنسأل الله العافية والسلامة والكلام فيه يطول ولكن أكتفي بهذا ))
Terjemahan :
Penanya berkata: “Apakah didapati pada Jum’iyyah Ihya’ At-Turots andil dalam bidang dakwah ?” Jawaban Syaikh Dr. Muhammad Ibn Hadi al Madkhali : “Apakah Kalian tahu Jum’iyyah ini? Apakah dibangun di atas manhaj Salafi ? Demi Allah dia (Ihya’ut Turots-pen) tidak dibangun diatas manhaj Salafi. Demi Allah dibangun di atas manhaj Ikhwani, para anggotanya adalah orang-orang yang mutalawwin/bermuka dua [3]. Adapun yang kami ketahui tentang mereka, tidak boleh bagi kita mendiamkan karena adanya orang yang memberi rekomendasi kepada mereka, dari orang-orang yang mereka (orang-orang Ihya' turats-pent) berbasa-basi di hadapannya sementara mereka (yang memberi rekomendasi) tidak mengetahuinya.
Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak
membebani kita kecuali dengan apa yang kita ketahui. Sementara organisasi ini
adalah Hizbiyyah. Mereka mempunyai bai’at yang mereka namakan perjanjian atau
mereka namakan “Ta’at kepada penanggung jawab (pengurus, pen).” Maka,
perhatikanlah mereka dalam berbagai sikapnya! Kemanapun mereka pergi, ke Barat
atau ke Timur, di negara Islam atau selain negara Islam, kalian tidak mendapati
mereka melainkan mereka memecah-belah dakwah Salafiyah.
|
Fatwa Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri –Hafidhahullah
فتوى
الشيخ عبيد الجابري حفظه الله تعالى
(( أولا يا بني, نحن لا نتحدث إلا ببينة يستوي عندنا في هذا إحياء التراث وغيرها .لقد صح عندي بنقل الثقات منهم الشيخ عبد المالك رمضاني أن هذا موجود عندهم.ولا يزال عند بعض المنتسبين إليهم مثل عبد الله السبت ومحمد بن حميد النجدي .نعم. فهم أخفوا هذا عنكم,وكل جماعة منحرفة لا تعطي المنتسبين إليهم أول الأمر كل ما عندهم حتى جماعة التبليغ لا يبايعون على السلسلة الرباعية الصوفية وهي الجشتية والقادرية والسهروردية والنقشبندية إلا بعد اختبار ,نعم)).
Terjemahan :
Syaikh Ubaid al Jabiri : Jawaban beliau tatkala ditanya tentang pembai’atan yang terjadi di Jum’iyyah Ihya’ at-Turots: “Pertama, wahai anakku, kita tidaklah berbicara kecuali dengan bukti, menurut kami dalam hal ini Jum’iyyah Ihya’ At-Turots atau yang lainnya. Dan telah sampai berita shahih menurutku dengan penukilan orang yang tsiqah (terpercaya), diantara mereka Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani bahwa ini (bai’at) ada pada mereka. Dan masih saja ada pada sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada mereka seperti Abdullah As-Sabt dan Muhammad bin Humaid An-Najdi. (Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami - penerjemah). Iya, tetapi mereka menyembunyikan hal ini dari kalian. Dan setiap Jama’ah yang menyimpang pada awal kali tidak akan menyampaikan kepada orang-orang yang menisbahkan kepada mereka semua apa yang ada pada mereka. Bahkan Jama’ah Tabligh, mereka tidak membai’at berdasarkan empat serangkai Tarekat Shufiyah yaitu Al-Jusytiyah, Al-Qadiriyah, As-Sahrawardiyah,dan An-Naqsyabandiyah kecuali setelah melalui pengujian. Na’am (iya) ...”
السائل: أثابكم الله,هل تنصحون الشاب بالدخول مع جمعية
إحياء التراث في حلقة تحفيظ القرآن وبعض دروسهم؟ نرجو النصيحة؟
الجواب: أقول,بالنسبة للجمعية,نحن تكلمنا فيها ,أعني جمعية إحياء التراث وبينا ما يسعنا بيانا في أشرطة,منها في السعودية ومنها في الكويت وأظن أن أبا محمد وأبا عثمان حضرا بعضها .وآخر ما تكلمت فيه عن هذه الجمعية شريط أو مقابلة سجلت معي من قبل بعض الكويتيين وكان ذلك الشريط في عام 1422 ,وكنت أنا ذاك مشتركا في دورة علمية بحفر الباطن,فالكويتييون زاروا جيرانهم وأجروا مع ذلك الشريط وهو موجود,وأظنه في التسجيلات السلفية عندكم في الكويت. والذي أدين الله به أنه لا يجوز التعاون مع تلك الجمعية ولا غيرها من الجمعيات المنحرفة ولو اشتراك في سلكها ولا الدراسة في مدارس خاصة بها ولا حلقات خاصة بها ,ولا يجوز التعاون معها في أشرطتها الدعوية ,لأن هذه الحمعية ثبت عندنا أنها حرب على أهل السنة بالكويت .وكذلك تحتوي فيمن تحتوي من أعضائها المكفرين مثل ناظم المصباحي التي تنضح أشرطته بالتكفير إن لم يكن كلها فكثير منها ومن هون أمر هذه الجمعية ولطف حالها فإنهم ردوا عليه قوله بشهادة العدول من إخوانها وأبنائنا الكويتيين ومنهم مشيخة السلفية الذين يعرفون حالها ونحن نقبل قولهم وقول أبنائهم وإخوانهم به ما يجري في الكويت وهم أعلم ومنهم أبو محمد الشيخ فلاح بن إسماعيل وأبو عثمان الشيخ محمد بن عثمان العمري وغيرهم من مشيخة السلفية في الكويت ,نعم.
Terjemahan :
Berkata penanya: “Semoga Allah Ta’ala memberimu pahala. Apakah engkau menasehatkan seorang pemuda untuk masuk bergabung bersama Yayasan Ihya’ At-Turots dalam halaqah Tahfidzul Qur’an dan sebagian pelajaran mereka? Kami mengharapkan nasehat … Jawaban |
Fatwa Asy-Syaikh Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali –Hafidhahullah
فتوى الشيخ
ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله تعالى
(( والله يقولون بأن إحياء التراث تلتزم بالمنهج السلفي,لكن عليها مآخذ شديدة في الخارج أكثر من الداخل,وأرى أن التعاون معها تعاون ضد المنهج السلفي,فعليها أن تتوب إلى الله تبارك وتعالى وتلتزم المنهج السلفي باطنا وظاهرا وتعلن الحرب على هذا الغلو وعلى هذه المناهج مناهج سيد قطب.أما إمام إحياء التراث عبد الرحمن عبد الخالق يدافع عن الترابي وسيد قطب والبنا والمودودي وعيرهم من زعماء البدع والفتن ويبقى إماما مقدسا في قلب إحياء التراث.بارك الله فيكم.فهذا من أقوى القرائن على أن إحياء التراث ليست بصادقة في اتجاهها بالمنهج السلفي وآثار عبد الرحمن عبد الخالق معروفة هي ما تحمل المنهج السلفي بجدية وصفاء ونقاء .ومن أدلة أنها لا تلزم هذا المنهج أنها توالي التكفيرية في اليمن جمعية الحكمة وأمثالها وتوالي غيرهم توالي الإخوان المسلمين .أين جهودها في مواجهة هذا الفكر الإخواني لا هَمَّ له إلا السحب من المنهج السلفي . أيها الإخوة,على كل حال ,نحن ننصح الشاب السلفي أن يدرس المنهج السلفي من الطرق الشريفة النظيفة ,وأنصح السلفي الصادق ألا يدخل إخوانه في دوامة الخلافات والقيل والقال وقد نصحتكم في مرات كثيرة أنكم ابتعدوا عن أسباب الخلافات ,فالتعاون مع إحياء التراث يؤدي إلى صراعات وخلاافات بينكم. فالسلفي الصادق لا يغالط بدعوته وبإخوانه ويدخل بها في صراع الخلافات بارك الله فيكم. نحن والله نتمنى من إحياء التراث أن تعود إلى رشدها وأن يكون أعمالها الخفية مثل أعمالها الظاهرة وهي-- سلفية واضحة باطنا وظاهرا ترى آثار هذه السلفية في الخارج وفي الداخل .لكم مانرى هذا,أين هذا في بانجلاديش,وأين مثل هذا في السودان,وأين آثارها في بلدان بعيدة وإن كانوا يلبسون على الناس ,يلبسون على الناس ويقولون: نطبع الكتب وننشر كذا وكذا ........(كلمة غير واضحة) بارك الله فيك ليست مخلصة في نشر المنهج السلفي الذي رفع رايته رسول الله وصحابته الكرام وأتباعه أحمد بن حنبل وابن تيمية وابن عبد الوهاب .نجدهم ذكر الإخوان ,مجاملات,والسياسات وما شاكل ذلك.فلتتب إلى الله عز وجل من هذا المنهج . تم هذا اللقاء في يوم الخميس الموافق الثامن من شهر الله الحرام عام 1426 .بعنوان: الوسطية في الإسلام والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
Terjemahannya :
Syaikh Rabi Ibn Haadi : “Demi Allah, mereka mengatakan bahwa Ihya’ At-Turots komitmen dengan manhaj Salafi, namun ada beberapa kritikan keras atas mereka, dimana di luar - lebih banyak (kritikannya) - daripada di dalamnya. Aku berpendapat bahwa bekerjasama dengan mereka adalah bentuk kerjasama yang menentang manhaj Salafi. " |
Langganan:
Postingan (Atom)