Sabtu, 20 Agustus 2011

Meraih Khusyu’ Dalam Shalat (Bagian ke – 2)


Meraih Khusyu’ Dalam Shalat (Bagian ke – 2)

Pada edisi yang lalu telah dijelaskan tentang kedudukan dan keutamaan khusyu’ dalam shalat. Khusyu’ memilki peranan sangat penting dalam shalat, karena ia sebagai ruhnya. Atas dasar itu khusyu’ menjadi tolok ukur besar kecilnya nilai ats tsawab (pahala) di sisi Allah .
Karena orang yang shalat itu pada hakekat ia sedang berdo’a, bermunajat, dan berdzikir mengagungkan keagungan Rabb-nya. Allah berfirman (artinya): “Dan tegakkanlah shalat untuk mengingatku.” (Thaha: 14)
Rasulullah juga menegaskan:
إِنَّ المُصَلِّيَ يُنَاجِي رَبَّه فَلْيَنْظُرْ بِمَا يُنَاجِي بِهِ
“Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat kepada Rabb-nya, maka hendaklah ia memperhatikan apa yang ia munajatkan kepada-Nya.” (H.R. Al Bukhari dalam Af’alul ‘Ibad, lihat Shifat Shalatin Nabi hal. 100, karya Asy Syaikh Al Albani)
Pada edisi kali ini, akan disebutkan secara ringkas sebab-sebab yang dapat mendatangkan khusyu’. Ada dua hal yang perlu diperhatikan:   

MERAIH KHUSYU’ DALAM SHALAT (Bagian ke-1)


MERAIH KHUSYU’ DALAM SHALAT (Bagian ke-1)

Khusyu’ merupakan kalimat yang tidak asing lagi bagi kita. Biasanya, kata khusyu’ ini digunakan sebagai sifat dari ibadah shalat. Walaupun khusyu’ ini sering disebut-sebut, namun dalam prakteknya tidaklah semudah mengatakannya ataupun membahasnya secara teori. Hal ini pun bisa kita rasakan sendiri, betapa susahnya menghadirkan khusyu’ dalam shalat. Sehingga masalah khusyu’ ini bukan perkara enteng (baca: ringan). Apalagi Rasulullah telah memberitakan bahwa pertama kali yang akan dicabut pada umat ini adalah khusyu’. Sebagaimana Rasulullah bersabda:
أَوَّلُ شَيْئٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ الْخُشُوْعُ حَتَّى لاَ تَرَى فِيْهَا خَاشِعاً
“Pertama kali yang akan dicabut pada umat ini adalah khusyu’ sampai engkau tidak akan melihat lagi ada orang yang khusyu’.” (H.R Ath Thabrani dalam Al Kabir, dari sahabat Abu Dzar yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani).

Sudah menjadi maklum, bahwa shalat lima waktu merupakan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Menunjukkan ibadah shalat ini memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah . Selain itu, ibadah shalat merupakan tiang agama. Seseorang akan menjadi kokoh di atas agamanya bila ia telah menegakkan shalat dengan sebenar-benarnya. Rasulullah bersabda:
“Kepala dari seluruh perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 2/138)
Oleh karena itu Allah menjadikan ibadah shalat ini sebagai barometer dari amalan-amalan ibadah lainnya. Maksudnya, bila shalat itu dikerjakan dengan baik sesuai petunjuk Rasulullah dan disertai khusyu’ maka amalan ibadah lainnya akan teranggap baik semua. Sebaliknya, bila shalatnya jelek maka amalan ibadah lainnya akan teranggap jelek semua. Sebagaimana Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:
“Pertama kali yang dihisab pada hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalannya.” (HR. Thabrani, Ash Shahihah 3/346 karya Asy Syaikh Al Albani). 

Buletin Istiqomah ke 38 – Malam Seribu Bulan Lailatul Qadr pdf


Download File Kajian buletin Istiqomah ke 38 pdf
http://statics.ilmoe.com/kajian/users/mediasalaf/File-PDF/Buletin-Istiqomah/buletin-Istiqomah-ke-38.pdf

SHALATLAH, DIMANA DAN BAGAIMANAPUN KEADAANMU!


SHALATLAH, DIMANA DAN BAGAIMANAPUN KEADAANMU!

Shalat Adalah Ibadah Para Nabi
Para pembaca yang mulia, sesungguhnya ibadah shalat bukanlah dikhususkan bagi umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, bahkan juga disyari’atkan kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Mereka pun memerintahkan kepada umat-umat mereka untuk mengerjakan shalat. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Isma’il adalah seorang nabi dan rasul, dan ia menyuruh ahlinya (yakni umatnya) untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat.” (Maryam: 54-55)
“Dan Aku telah memilih kamu (Musa), maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu! Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingatku.” (Thaaha: 13-14)
Namun kaifiyyah (tata cara) pelaksanaan shalat mereka itu berbeda-beda sesuai dengan syariat masing-masing dari para nabi dan rasul.  

Buletin istiqomah ke 39 – Shalat Idul Fitri pdf


Download File Kajian buletin istiqomah ke 39 pdf
http://statics.ilmoe.com/kajian/users/mediasalaf/File-PDF/Buletin-Istiqomah/buletin-istiqomah-ke-39.pdf

Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat


Hukum Orang yang Meninggalkan Sholat
------------------------------------------------------------------------------------
Pembicaraan tentang hukum orang yang meninggalkan sholat tidak keluar dari dua permasalahan.

Pertama, para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang meninggalkan sholat dalam keadaan mengingkari dan menentang akan kewajibannya adalah kafir dan keluar dari agama Islam.

Kedua, perselisihan para ulama terjadi pada hukum orang yang meninggalkan sholat karena bermalas-malas dan menyibukkan diri dengan selainnya tanpa memiliki udzur, tetapi masih meyakini tentang kewajibannya (sholat).

Maka dalam hal ini, sebagian ulama ada yang mengkafirkannya, di antaranya Imam Ahmad, Ibnul Mubarok, dan yang lainnya. Demikian pula sebelumnya dari kalangan para sahabat seperti Umar ibnul Khoththob, Abu Hurairoh, Ibnu Mas’ud, dan yang lainnya. Berdalil dengan hadits Jabir, “Pembeda antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan sholat.” (HR Muslim) dan berdalil juga dengan atsar Abdullah ibnu Syaqiq, ia berkata, “Mereka para sahabat tidak melihat satu amalan pun yang apabila ditinggalkannya menyebabkan kafir selain amalan sholat.”

Adapun pendapat yang lainnya, tidak mengkafirkannya, akan tetapi menghukuminya dengan fasiq. Dan ini pendapat jumhur salaf dan khalaf, di antaranya Imam Malik, Asy Syafi’i, dan Abu Hanifah. Berdalil dengan ayat, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selainnya bagi yang dikehendaki-Nya.”
Dan berdalil dengan hadits-hadits, di antaranya hadits yang dishahihkan oleh Imam Al Albani dalam Al Jaami’, bahwa Allah mewajibkan atas hambanya sholat lima waktu, barangsiapa yang melaksanakannya maka Allah memiliki janji untuknya yakni akan dimasukkan ke dalam jannah dan jika sebaliknya maka Allah tidak memiliki janji untuknya. Jika Dia (Allah) berkehendak akan mengadzabnya, dan jika Dia berkehendak akan memasukkannya ke dalam jannah.

Jumhur ulama mentafsirkan pernyataan “kufur” yang terdapat dalam hadits-hadits tentang orang-orang yang meninggalkan sholat adalah kufur amali yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama selama dia meninggalkannya karena bermalas-malas dan bukan karena menentang hukum wajibnya.
Wal ‘ilmu indallah.

(Dikutip dari tulisan Ustadz Abu Hamzah Yusuf, bulletin al Wal wal Bara Edisi ke-8 Tahun ke-1 / 07 Februari 2003 M / 05 Dzul Hijjah 1423 H. Url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th1/8.htm#sub2)

SHALAT BERJAMA’AH PERINTAH AGAMA YANG KIAN DITINGGALKAN


SHALAT BERJAMA’AH PERINTAH AGAMA YANG KIAN DITINGGALKAN

Masjid merupakan sebuah tempat suci yang tidak asing lagi kedudukannya bagi umat Islam. Masjid selain sebagai pusat ibadah umat Islam, ia pun sebagai lambang kebesaran syiar dakwah Islam. Alhamdulillah…, kaum muslimin pun telah terpanggil untuk bahu-membahu membangun masjid-masjid di setiap daerahnya masing-masing. Hampir tidak dijumpai lagi suatu daerah yang mayoritasnya kaum muslimin kosong dari masjid. Bahkan terlihat renovasi bangunan masjid-masjid semakin diperlebar dan diperindah serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas, agar dapat menarik dan membuat nyaman jama’ah. Semoga semua usaha ini menjadi amal ibadah yang barakah karena mengamalkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharap wajah Allah, niscaya Allah akan bangunkan baginya semisalnya di al jannah.” (Al Bukhari no. 450)
Tentunya akan lebih barakah lagi bilamana mampu merealisasikan tujuan dibangunnya masjid. Salah satu fungsi dibangunnya masjid adalah menegakkan shalat berjam’ah di dalamnya. Ternyata, bila kita menengok kondisi masjid-masjid yang ada terlihat shaf (barisan) ma’mum semakin maju alias sepi dari jama’ah. Bahkan ada beberapa masjid yang tidak menegakkan shalat berjama’ah lima waktu secara penuh. Kondisi ini seharusnya menjadikan kita tersentuh untuk bisa berupaya dan ikut serta bertanggung jawab dalam mamakmurkan masjid. 

Memberi Salam dan Berjabat Tangan dalam Islam


Memberi Salam dan Berjabat Tangan dalam Islam
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Namun apa yang terjadi jika perbuatan terpuji ini dilakukan tidak pada tempat yang semestinya? Tidak ada kebaikan yang didapat bahkan pelanggaran syariatlah yang terjadi.

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal pdf


Buletin istiqomah ke 40 – Puasa Enam Hari di Bulan Syawal pdf
--------------------------------------------------------------------

Download File Kajian buletin istiqomah ke 40 pdf
http://statics.ilmoe.com/kajian/users/mediasalaf/File-PDF/Buletin-Istiqomah/buletin-istiqomah-ke-40.pdf

Wajibnya Shalat Berjama'ah


Fiqih
Previous Top Next

Wajibnya Shalat Berjama'ah


Penulis: Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah

Dari Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, kepada kaum muslimin, semoga Allah memberi mereka taufiq menuju apa yang dia ridloi dan mengumpulkan kita semua bersama orang-orang takut dan bertaqwa kepada Allah. Amin.
As Salamu ‘alaikum wa rahmatulahi wa barakatuhu. Amma ba’du:

Sampai berita kepada saya bahwa kebanyakan orang telah melalaikan penunaian shalat dengan berjama’ah. Mereka beralasan dengan penggampangan oleh sebagian ulama dalam masalah itu. Maka wajib bagiku untuk menjelaskan perkara yang agung dan hebat ini.



Selayaknya seorang muslim tidak meremehkan suatu perkara yang Allah malah menganggapnya besar dalam Al Qur’an. Dan rasul-Nya juga melakukan demikian. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau dengan sebaik-baik shalawat dan salam. Allah sering sekali menyebut tentang shalat dalam Al Qur’an. Dan juga membuat masalahnya besar. Allah menyuruh untuk menjaganya dan menunaikannya dengan berjama’ah. Allah mengabarkan bahwa sikap meremehkannya dan bermalas-malas menunaikannya termasuk sifat orang munafik. Allah mengatakan dalam Kitab-Nya yang Jelas:

“Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha. Dan berdirilah (kalian semua) karena Allah (dalam shalat) dengan khusyu’ ” (Al Baqarah: 238)

Delapan Poin ttg “Sholatnya” Muslimah di Masjid


Delapan Poin ttg “Sholatnya” Muslimah di Masjid
-------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Kehadiran wanita dalam shalat berjamaah di masjid.

Sejak zaman Nubuwwah, kehadiran wanita dalam shalat berjamaah di masjid bukanlah sesuatu yang asing. Dalam artian, di antara shahabiyah (shahabat Rasulullah dari kalangan wanita, red) ada yang ikut menghadiri shalat berjamaah di belakang para shahabat walaupun itu tidak wajib bagi mereka. (Lihat kembali Salafy edisi IX/Rabiul Akhir 1417/1996 rubrik Ahkam yang membahas tentang hukum shalat berjamaah bagi wanita dan lihat pula edisi XVI/Dzulhijjah 1417/1997 rubrik Kajian Kali Ini).

Ada beberapa dalil dari sunnah yang shahihah yang menunjukkan keikutsertaan wanita dalam shalat berjamaah di masjid. Tiga di antaranya kami sebutkan berikut ini : 

Sunnah-sunnah Para Nabi


Sunnah-sunnah Para Nabi

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua orang pasti cinta kebersihan dan kesucian sampai ada ungkapan "kebesihan pangkal kesehatan". Kebersihan dan kesucian amatlah diperhatikan oleh Islam baik pada batin maupun lahiriah seseorang. Namun tentunya harus sesuai batasan Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Jangan keterlaluan dalam menjaga kebersihan sampai keluar dari ketaatan, seperti orang yang tak mau shalat di masjid yang tak beralas karpet dengan alasan menjaga kebersihan, padahal masjidnya tak bernajis!! Jangan pula teledor dalam menjaga kebersihan sampai melanggar batas, seperti sebagian supir mobil yang suka kencing berdiri di sembarang tempat, lalu shalat, padahal badan atau pakaiannya terkena najis kencing!!!
Agama Islam yang suci ini adalah agama yang menjaga fithrah yang Allah telah perintahkan kepada nabi-nabi dan rasul sebelum diutusnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Fithrah ini melambangkan kesucian dan kebersihan para anbiya’ dan pengikutnya. Allah berfirman,
"Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud". (QS. An-Nisaa’: 163).
Di antara perkara yang Allah wahyukan kepada para nabi dan rasul –termasuk Nabi kita Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- – adalah 5 perkara yang biasa disebut dengan "Sunanul fithrah".
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
الْفِطْرَةُ خَمْسٌ ( أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ ) الْخِتَانُ وَالْاِسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ
"Fithrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis". [HR. Al-Bukhoriy (5889), Muslim (257), Abu Dawud (4198), dan An-Nasa'iy (9)]

Hukum Asal Segala Sesuatu itu Suci


Hukum Asal Segala Sesuatu itu Suci
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah :

• Setiap yang halal itu suci

• Setiap yang najis itu haram

• Tidaklah setiap yang haram itu najis (Asy Syarhul Mumti, 1/77)

Menyambung pembicaraan kami dalam edisi terdahulu tentang pembahasan najis yang sepanjang pengetahuan kami kenajisannya disepakati oleh ulama , maka dalam edisi kali ini kami akan memaparkan apa-apa yang sepanjang pengetahuan kami diperselisihkan masalah kenajisannya, disertai dengan penjelasan mana yang rajih (kuat) dari perselisihan itu, apakah itu najis atau bukan najis, wallahu al muwaffiq. 

Jumat, 19 Agustus 2011

syarah Qawaidul Arba’ Kaidah yang keempat


Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Kaidah yang keempat: Bahwa kaum musyrikin pada zaman kita ini lebih besar kesyirikannya dari pada (kaum musyrikin) terdahulu, karena (kaum musyrikin) dahulu berbuat syirik (ketika) keadaan senang dan mereka ikhlas dalam keadaan susah. Sementara kaum musyrikin zaman kita, kesyirikan mereka terus-menerus dalam keadaan senang maupun susah, dan dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al Ankabut: 65)
SYARAH: 

syarah Qawaidul Arba’ Kaidah yang ketiga


Berkata Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullah:
“Kaidah yang ketiga: Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam muncul pada manusia yang ibadahnya berbeda-beda. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para Nabi dan orang-orang shalih, ada yang menyembah batu-batu dan pohon-pohon, dan ada yang menyembah matahari dan bulan dan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerangi mereka tanpa membeda-bedakannya. Dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه
 “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata hanya untuk Allah.” (Al Anfal: 39)
SYARAH: 

syarah Qawaidul Arba’ Kaidah yang kedua


Berkata syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullah :
Kaidah yang kedua : Bahwasanya mereka menyatakan : “Tidaklah kami berdo’a kepada mereka serta menghadap mereka kecuali untuk mencari qurbah (kedekatan) dan syafa’at. Dalilnya qurbah adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“dan orang-orang yang mengambil pelindung selain allah (berkata) : “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az Zumar : 3)
SYARAH : 

Kamis, 18 Agustus 2011

syarah Qawaidul Arba’ Kaidah yang pertama


Berkata Syaikh (Muhammad bin ‘Abdul Wahhab) rahimahullah :
Kaidah yang pertama : ketahuilah! Bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam –mereka itu- mengekui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta dan pengatur, namun hal tersebut tidak memasukkan mereka kedalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Katakanlah : Siapakah yang memberimu rezeki dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengetur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab “Allah” Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (Yunus : 31) 

syarah Qawaidul Arba’


Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.
Amma ba’du;
Ini adalah syarah Qawaidul Arba’ yang dikarang oleh syaikul Islam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Karena aku melihat tidak ada orang yang mensyarahnya, maka aku ingin mensyarahnya sesuai dengan kekuatan dan kemampuanku. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni kekuranganku didalamnya.
Berkata mu’allif (pengarang) rahimahullah :

Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya


Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya


Hari raya adalah hari bergembira bagi seluruh ummat Islam di Indonesia Raya, bahkan di seluruh dunia. Ini merupakan nikmat dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Namun kegembiraan ini terkadang disalahsalurkan oleh sebagian kaum muslimin dalam beberapa bentuk pelanggaran berikut:

Sunnah Ied yang Hampir Terlupakan


Sunnah Ied yang Hampir Terlupakan


‘Ied "lebaran" merupakan hari berbahagia dan bersuka cita bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Kegembiraan ini nampak di wajah,tindak-tanduk dan kesibukan mereka. Orang yang dulunya berselisih dan saling benci, pada hari itu saling mema’afkan. Ibu-ibu rumah tangga sibuk membuat berbagai macam kue, ketupat, makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu yang akan berdatangan pada hari ied. Bapak-bapak sibuk belanja baju baru buat anak dan keluarganya. Para pekerja dan penuntut ilmu yang ada diperantauan nun jauh di negeri orang sibuk menghubungi keluarga mereka, entah lewat surat atau telepon.
Di balik kesibukan dan kegembiraan ini, terkadang mengantarkan sebagian manusia lalai untuk mempersiapkan apa yang mereka harus kerjakan di hari Ied. Diantaranya, seperti berikut ini