Membangun Istana
Kelembutan
Penulis: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin
Kekerasan terhadap anak, telah demikian banyak terjadi.
Bahkan, kekerasan yang terjadi tidak sedikit yang dilakukan secara tidak
terukur. Dorongan untuk melakukan kekerasan pada anak lebih dikarenakan situasi
emosional yang tidak stabil. Nafsu angkara menjadi mudah tersulut kala anak
bertindak salah. Struktur kejiwaan seperti ini, ibarat petasan, ia bersumbu
pendek. Sekali sulut, langsung meledak
Tahun delapanpuluhan, dunia pendidikan
Indonesia terhenyak kelabu. Seakan tiada habis tanya, mengapa peristiwa itu
terjadi. Namun begitulah. Suratan takdir telah menorehkan peristiwa lain.
Seorang bocah yang belum menginjak usia baligh terkapar. Tubuhnya lebam-lebam,
sebagai pertanda dirinya telah dianiaya. Bertubi siksaan, deraan dan pukulan
mendarat di sekujur tubuhnya. Dalam ketiadaan daya, dirinya cuma bisa merintih
kesakitan. Lalu, iapun meninggalkan alam fana ini. Apa salah bocah itu? Konon,
katanya ia telah mencuri. Atas tindakan bocah ini, orangtuanya pun kalap.
Kemarahan membakar hatinya. Maka terjadilah apa yang terjadi. Episode kelabu ini
menjadi noktah hitam dalam lembar riwayat dunia pendidikan di Tanah
Air. Kekerasan terhadap anak, telah demikian banyak terjadi. Bahkan,
kekerasan yang terjadi tidak sedikit yang dilakukan secara tidak terukur.
Dorongan untuk melakukan kekerasan pada anak lebih dikarenakan situasi emosional
yang tidak stabil. Nafsu angkara menjadi mudah tersulut kala anak bertindak
salah. Struktur kejiwaan seperti ini, ibarat petasan, ia bersumbu pendek. Sekali
sulut, langsung meledak. Sekali anak melakukan perbuatan tak berkenan, langsung
amarahnya menggelegar. Marah telah menghilangkan kontrol diri. Akibatnya, lisan
tak terjaga, tindakan pun membabi buta. Kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-’Utsaimin rahimahullahu, “Sungguh marah itu tidak diragukan lagi telah
memberi pengaruh pada manusia, sehingga dirinya berperilaku (dengan) perilaku
seperti orang gila.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/925) Berdasar hadits dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي. قَالَ: لَا تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ:
لَا تَغْضَبْ “Sesungguhnya seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam: ‘Nasihatilah aku.’ Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
‘Janganlah kamu marah.’ Kalimat itu terus diulang-ulang. Kata Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam: ‘Janganlah kamu marah’.”(Shahih Al-Bukhari, no.
6116) Kalimat لَا تَغْضَبْ (janganlah kamu marah), menurut Asy-Syaikh
Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu, bermakna janganlah kamu menjadi
orang yang cepat marah, yang akan memengaruhimu pada setiap sesuatu. Tapi,
jadilah dirimu orang yang tenang, tidak cepat marah, karena sesungguhnya
kemarahan itu adalah bara api yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia.
Dengan bara api itu, mendidihlah hati seseorang. Karena ini pula, urat-urat
leher dan jaringan pembuluh darah menegang, mata pun memerah. Lalu seseorang
melakukan tindakan (agresivitas), setelah itu timbullah penyesalan.” (Syarhu
Riyadhish Shalihin, 1/925) Tentu sebuah sikap bijak, bila mendapati orang
yang tengah geram dibakar angkara murka lalu menasihatinya. Nasihat nan bijak
ini diharapkan mampu meredam tindakan-tindakan yang bakal tak terkendali.
Seperti melakukan agresivitas; pemukulan atau tindakan sadistis lainnya yang tak
patut dikenakan pada anak-anak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memberi contoh terbaik, bagaimana upaya meredam amarah yang tengah menggelegak
pada diri seseorang. Nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung
menembus pusat kesadaran. Sehingga, peristiwa pemukulan lantaran sikap amarah
berhasil dihentikan. Bahkan tak cuma di situ. Pada diri orang itu tumbuh
kesadaran untuk tidak lagi melakukan pemukulan terhadap budak miliknya
selama-lamanya. Ini merupakan revolusi perubahan sikap dan perilaku yang
mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia. ‘Uqbah bin ‘Amir bin Tsa’labah
Al-Anshari atau lebih dikenal dengan nama kunyah Abu Mas’ud Al-Badri
radhiyallahu ‘anhu, bertutur: كُنْتُ أَضْرِبُ غُلَامًا لِي بِالسَّوْطِ
فَسَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ خَلْفِي: اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ. فَلَمْ أَفْهَمِ
الصَّوْتَ مِنَ الْغَضَبِ، قَالَ: فَلَمَّا دَنَا مِنِّي إِذَا هُوَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ يَقُولُ: اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ،
اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ. قَالَ: فَأَلْقَيْتُ السَّوْطَ مِنْ يَدِي، فَقَالَ:
اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ، أَنَّ اللهَ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَى هَذَا
الْغُلَامِ. قَالَ: فَقُلْتُ: لَا أَضْرِبُ مَمْلُوكًا بَعْدَهُ أَبَدًا “Saat
aku memukuli budak milikku dengan cambuk, aku mendengar suara dari arah
belakang: ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Aku tak memahami suara itu karena
sedang marah.” “Maka tatkala mendekat kepadaku,” kata Abu Mas’ud, “Ternyata
dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu
Mas’ud!’.” Kata Abu Mas’ud: “Aku pun melemparkan cambuk yang ada di tangan.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Ketahuilah wahai Abu Mas’ud,
sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih kuasa atas dirimu daripada engkau
terhadap budak ini’. Aku berkata: ‘Setelah peristiwa itu, aku tidak lagi
melakukan pemukulan terhadap budak selama-lamanya’.” (Shahih Muslim, no.
1659) Terkait hadits di atas, Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan
bahwa hadits Abu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu tersebut mengandung motivasi untuk
bersikap lemah lembut terhadap budak. Termuat pula nasihat serta kepedulian
untuk bersikap pemaaf, menahan diri dari amarah dan menghukum sebagaimana Allah
Subhanahu wa Ta’ala menghukum hamba-hamba-Nya. (Al-Minhaj, 11/132) Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ
النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.” (Ali 'Imran: 134) Meretas pendidikan bagi anak-anak
sehingga mereka menjadi generasi berakhlak mulia di masa sekarang ini tidaklah
mudah. Berbagai kendala menghadang. Serbuan budaya kekerasan dan sadisme
senantiasa mewarnai kehidupan sehari-hari. Aksi-aksi kekerasan dipertontonkan
secara vulgar di hadapan anak-anak. Melalui kemampuan meniru yang kuat, seorang
anak akan dengan mudah merekam dan menirukan apa yang dilihat dan dirasakannya.
Lambat laun budaya itu terserap, mengkristal dalam jiwa anak dan terbentuklah
kepribadian anak yang kasar, bengis, beringas, vandalis (suka merusak dengan
ganas), dan pemarah. Anak menjadi ringan tangan untuk menyakiti teman-temannya,
atau bahkan adiknya sendiri. Satu hal yang sangat ironis sekali, manakala
kepribadian tanpa rahmah ini justru terbentuk pada diri anak melalui sikap-sikap
yang diperlihatkan orangtua atau gurunya. Pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam ada seorang yang bernama Al-Aqra’ bin Habis. Dia seorang ayah yang
memiliki sepuluh anak. Satu hari, dia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mencium Hasan, cucu beliau. Lantas Al-Aqra’ bin Habis berucap, “Sungguh,
aku memiliki sepuluh anak. Tak satupun dari mereka yang pernah aku cium.”
Menimpali ucapan ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: إِنَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ “Sesungguhnya siapa yang
tak menyayangi, dia tak akan disayangi.” Dalam riwayat lain
disebutkan: مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ
وَجَلَّ “Siapa yang tak menyayangi orang lain, Allah k tak akan
menyayanginya.” (Kisah ini merujuk pada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu dan Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dalam Shahih Muslim no. 2318
dan 2319) Hadits di atas memberikan tekanan yang sangat kuat bahwa keluarga
atau komunitas terdekat anak berperan dalam menumbuhkan kepribadian anak yang
rahmah. Sarat kelembutan, bertabur kasih sayang. Sulit dan sangat sulit sekali,
membangun rumah menjadi istana nan padat kelembutan bila masing-masing anggota
keluarga tiada berkepribadian yang rahmah. Kekerasan, pertengkaran, caci maki,
dan dendam kesumat menjadi menu santapan sehari-hari. Maka, kisah di atas
memberikan semangat guna melabur kasih kepada anak-anak dan selainnya. Salah
satu dari sekian banyak ekspresi untuk ungkapan kasih sayang orangtua kepada
anak adalah dengan menciumnya. Inilah dasar pembentukan watak, karakter anak.
Inilah manhaj yang sangat bersifat asasi. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan
tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmah bagi semesta alam.”
(Al-Anbiya`: 107) Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
disebutkan: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ. قَالَ:
إِنِّي لَـمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً “Dikatakan: ‘Ya
Rasulullah, doakan kejelekan bagi orang-orang yang berbuat syirik.’ Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sungguh, aku tidaklah diutus sebagai
orang yang suka melaknat. Sesungguhnya aku diutus untuk membawa rahmah’.”
(Shahih Muslim, no. 2599) Pendidikan tanpa disertai sikap rahmah akan membawa
akibat yang tidak ringan. Sama seperti halnya dalam dakwah. Tanpa sikap yang
diliputi rahmah, dakwah bakal membuncah tiada arah. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا
غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ
لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ “Maka disebabkan rahmah dari Allah-lah
kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu,
maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan
mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakal kepada-Nya.” (Ali ‘Imran: 159) Kemudian selisiklah, bagaimana
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembangkan sikap penuh hikmah,
lembut, tidak menampakkan kekerasan terhadap orang Arab badui yang belum
mengenyam pendidikan, padahal dia buang air di masjid. Anas bin Malik
radhiyallahu ‘anhu mengungkapkan kisah ini dalam haditsnya: بَيْنَمَا نَحْنُ
فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَ
أَعْرَابِيٌّ فَقَامَ يَبُولُ فِي الْمَسْجِدِ، فَقَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْ مَهْ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُزْرِمُوهُ، دَعُوهُ. فَتَرَكُوهُ حَتَّى بَالَ،
ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ:
إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا
الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ
الْقُرْآنِ أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
قَالَ: فَأَمَرَ رَجُلًا مِنَ الْقَوْمِ فَجَاءَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَنَّهُ
عَلَيْهِ “Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam tiba-tiba datang seorang A’rabi (Badui). Kemudian dia berdiri, buang
air di masjid. Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
‘Mah, mah.’1 Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jangan
hentikan (buang air kecilnya). Biarkan dia.’ Para sahabat pun meninggalkannya
hingga orang tersebut menyelesaikan buang air kecilnya. Kemudian Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil A’rabi itu dan berbicara kepadanya:
‘Sesungguhnya masjid-masjid ini tidaklah boleh untuk buang air kecil atau buang
kotoran. Masjid itu tempat untuk dzikir kepada Allah k, shalat dan membaca
Al-Qur`an.’ –Atau sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam–. Lantas beliau memerintahkan seseorang dari kaum tersebut, maka orang
itu datang membawa seember air. Disiramlah bekas buang air kecil tadi.” (Shahih
Muslim, no. 285) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu
mengungkapkan faedah dari hadits tersebut. Kata beliau, hal itu menunjukkan
kebagusan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengajaran beliau dan
sikap lemah lembutnya. Karenanya, hendaklah bagi kita bila berdakwah, menyeru
pada perkara yang ma’ruf dan mencegah perkara yang mungkar dilakukan dengan cara
yang lemah lembut. Sesungguhnya cara yang lembut akan membuahkan kebaikan.
Sebaliknya, cara yang kasar dan galak, bakal membuahkan kejelekan. (Syarhu
Riyadhish Shalihin, 1/921) Bagaimana bila dikaitkan dengan dunia pendidikan?
Tentu pada hakikatnya sama antara dunia dakwah dengan dunia pendidikan.
Karenanya, bagi para orangtua, pendidik, pengasuh, dan semua kalangan yang
berkecimpung dalam dunia pendidikan hendaknya bisa mengedepankan sikap lemah
lembut ini. Tidak mengedepankan aksi kekerasan, mudah mengayunkan tongkat atau
alat pemukul ke tubuh anak didik. Dari Aisyah x, dia berkata: Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ
فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ “Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah Lembut dan menyukai
kelemahlembutan dalam seluruh perkara.” (Shahih Al-Bukhari no. 6927 dan Shahih
Muslim no. 2165) Juga dari Aisyah x, dia berkata: مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ وَلَا امْرَأَةً وَلَا
خَادِمًا إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya. Tidak terhadap
istri, juga terhadap pelayan. Kecuali saat jihad di jalan Allah.” (Shahih
Muslim, no. 2328) Menurut Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, yang dimaksud
hadits itu yaitu memukul istri, pelayan, hewan; dan jika (memukul sesuatu) yang
dibolehkan maka dilandasi dengan adab (aturan). Namun, meninggalkannya (yakni
tidak memukul, pen.) itu lebih utama. (Al-Minhaj, 15/84) Karenanya, penting
sekali bagi seorang pendidik untuk memiliki sifat al-hilm, at-ta`anni, dan
ar-rifq. Yang dimaksud al-hilm, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-’Utsaimin rahimahullahu, adalah seseorang yang mampu mengendalikan diri
ketika marah. Sedangkan at-ta`anni yaitu bersikap tenang dalam menghadapi
masalah yang ada. Tidak tergesa-gesa (dalam menyikapi perkara). Adapun ar-rifq,
yaitu dalam bergaul dengan sesama manusia yang didasari kelemahlembutan dan
merendah. (Syarh Riyadhish Shalihin, 1/914) Maka, seseorang yang tidak
memiliki sifat al-hilm, dirinya akan senantiasa hanyut oleh gelombang
kemarahannya. Pikiran jernihnya pupus disapu nafsu angkara murka yang telah
merebak dalam dirinya. Sehingga, yang selalu dikedepankan oleh dirinya adalah
‘ilmu kekuatan’ (memukul, mencambuk, dan yang sejenisnya), bukan kekuatan ilmu
(nasihat, bimbingan, arahan, dan sejenisnya). Begitu pula dengan sifat
at-ta`anni dan ar-rifq. Tanpa memiliki sifat tersebut, seseorang akan
tergesa-gesa dalam memutuskan suatu perkara tanpa mau secara bijak menyelami
hakikat masalah yang ada pada anak. Ini sering terjadi terkait dalam penerapan
sanksi atau hukuman pada anak. Karenanya, penting sekali memahami keadaan anak
disertai sifat al-hilm, at-ta`anni, dan ar-rifq. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman: قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا
وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ
الْمُشْرِكِينَ “Katakanlah: ‘Ini jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci
Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik’.” (Yusuf: 108) Pengertian
بَصِيْرَةٍ pada ayat tersebut adalah ilmu. Yang dimaksud di sini bukan semata
ilmu syar’i, namun meliputi pula keadaan mad’u (obyek dakwah) dan ilmu yang
mengantarkan kepada tujuan, yaitu al-hikmah. Maka harus dimiliki, bashirah
(ilmu) tentang hukum syar’i, bashirah (ilmu) berkenaan dengan keadaan obyek
dakwah, dan bashirah (ilmu) terhadap jalan yang mengantarkan kepada hakikat
dakwah. Ini selaras dengan apa yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu saat hendak diutus ke
Yaman: إِنَّكَ سَتَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ “Sesungguhnya
engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab.” (Shahih Al-Bukhari, no.
4347, hadits dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma Lihat Al-Qaulul Mufid
‘ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu,
hal. 119) Itu berarti, saat mendidik anak, selain memiliki bekal pemahaman
agama, seseorang harus pula memahami kondisi anak. Juga tentunya, bagaimana
harus memperlakukan anak tersebut. Sehingga dengan kepribadian nan penuh rahmah,
dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan rumah,
pesantren dan tempat lainnya sebagai istana kelembutan, bukanlah sesuatu yang
mustahil. Dari sanalah lahir insan berilmu dan memiliki adab nan
luhur. Wallahu a’lam.
1 Sebuah ungkapan pelarangan.
–pen. http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=698
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar